Tampilkan postingan dengan label pertambangan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pertambangan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

TAMBANG TERBUKA

TAMBANG TERBUKA

1.       Pendahuluan
Tambang terbuka merupakan satu dari dua sistem penambangan yang dikenal, yaitu Tambang terbuka dan Tambang Bawah Tanah, dimana segala kegiatan atau aktivitas penambangan dilakukan di atas atau relatif dekat permukaan bumi dan tempat kerja berhubungan langsung dengan dunia luar. Penambangan pada tambang terbuka itu sendiri dilakukan dengan beberapa tahapan kerja:
a.       Pengurusan surat-surat ijin yang dibutuhkan untuk kegiatan penambangan, pembabatan (land clearing).
b.       Pengupasan lapisan tanah penutup (stripping of overburden).
c.       Penambangan (exploitation), pemuatan (loading), pengangkutan (hauling), dan pengolahan serta pemasaran.

Pengelompokan Tambang Terbuka Pada prinsipnya tambang terbuka dapat digolongkan ke dalam empat golongan :
1.       Openpit/Openmine/Opencut/Opencast
Adalah tambang terbuka yang diterpakan pada penambangan ore (bijih). Misalnya nikel, tembaga, dan lain-lain.
2.       StripMine
Penerapan khusus endapan horizontal/sub-horizontal terutama untuk batubara, dapat juga endapan garam yang mendatar. Contoh Tamabang Batubara di Tanjung Enim.STRIP MINE
3.       Quarry
AdalahTambang terbuka yang diterapkan pada endapan mineral industri (industrial mineral). Contoh Tambang batu pualam di Tulung Agung.
4.       Alluvial mining
Dapat dikatakan sebagai “placer Mining” ataupun di Australia disebut “Beach-mine” yaitu cara penambangan untuk endapan placer atau alluvial. Contoh tambang Cassiterite di Pulau Bangka, belitung dan sekitarnya.

2.       Aktifitas Pada Pelaksanaan Tambang Terbuka
2.1. Tahap Persiapan
Kegiatan – kegiatan yang dilakukan pada awal proses pengambilan atau penambangan bahan galian terdiri dari tahap persiapan (pra penambangan), Kegiatan tersebut meliputi :
1.       Pembuatan Jalan Rintasan
Jalan rintasan berfungsi sebagai jalur lewatnya alat-alat berat ke lokasi tambang, kemudian dikembangkan sebagai jalan angkut material dari front penambangan ke lokasi pabrik peremukan. Pembuatan jalan diguna-kan dengan memakai Bulldozer yang nantinya digunakan pula sebagai pengupasan lapisan penutup.

2.       Pembersihan Lahan
Pekerjaan ini dilakukan sebelum tahap pengupasan lapisan tanah penutup dimulai. Pekerjaan ini meliputi pembabatan dan pengumpulan pohon yang tumbuh pada permukaan daerah yang akan ditambang dengan tujuan untuk membersihkan daerah tambang tersebut sehingga kegiatan penambangan dapat dilakukan dengan mudah tanpa harus terganggu dengan adanya gangguan tetumbuhan yang ada didaerah penambangan. Kegiatan pembersihan ini dilakukan dengan menggunakan Bulldozer.

Pembersihan dilakukan pada daerah yang akan ditambang yang mempunyai ketebalan overburden beberapa meter dengan menggunakan Bulldozer dan dilakukan secara bertahap sesuai dengan pengupasan lapisan tanah penutup. Dalam pembabatan, pohon didorong kearah bawah lereng untuk dikumpulkan, dimana penanganan selanjutnya diserahkan pada penduduk setempat.

3.       Pengupasan Tanah Penutup
Pembuangan lapisan tanah penutup dimaksudkan untuk membersihkan endapan batu gamping yang akan digali dari semua macam pengotor yang menutupi permukaanya, sehingga akan mempermudah pekerjaan penggaliannya disamping juga hasilnya akan relatif lebih bersih.

Lapisan tanah penutup pada daerah proyek terdiri atas dua jenis yaitu top soil dan lapisan overburden sehingga lapisan dilakukan terhadap lapisan top soil terlebih dahulu dan ditempatkan pada suatu daerah tertentu untuk tujuan reklamasi nantinya. Setelah lapisan top soil terkupas, selanjutnya dilakukan pengupasan pada lapisan overburden lalu didorong dan ditempatkan pada daerah tertentu dan sebagian lagi digunakan sebagai pengeras jalan.

Kegiatan pengupasan dilakukan secara bertahap dengan menggunakan bulldozer, dimana tahap pengupasan awal dilakukan untuk menyiapkan jenjang pertama dan pengupasan berikutnya dapat dilakukan bersamaan dengan tahap produksi, sehingga pola yang diterapkan adalah seri dan paralel yang bertujuan untuk :
a.       Menghemat investasi dan biaya persiapan.
b.       Menghindari pengotoran endapan batu gamping dari lapisan penutup, sehingga mempermudah dalam pekerjaan penggalian.
c.       Menghindari terjadinya longsoran dan bahaya angin.

4. Persiapan Peralatan Penambangan
Penambangan yang akan dilakukan difokuskan dengan menggunakan peralatan mekanis. Adapun alat yang digunakan diperlukan untuk menunjang kegiatan penambangan, yaitu :
a.       Bulldozer, yang digunakan untuk pembersihan lahan dan pengupasan lapisan tanah penutup.
b.       Loader, yang digunakan untuk memuat bongkahan batu gamping hasil dari pembongkaran keatas alat angkut.
c.       Truck, yang digunakan sebagai alat angkut hasil front penambangan ke tempat pabrik peremukan/penggerusan.
d.       Crushing Plant, yaitu suatu unit pengolahan yang berfungsi sebagai alat preparasi batu gamping dari front penambangan guna mendapatkan ukuran butiran yang diinginkan oleh pasar.
e.       Pembangkit Listrik, berfungsi sebagai sumber tenaga listrik yang akan dipakai sebagai penerangan, untuk alat pengolahan dan menggerakkan alat – alat yang bekerja didalam pabrik.
f.        Pompa Air, digunakan untuk memompa atau mengambil air guna memenuhi kebutuhan peralatan dan karyawan.


5. Persiapan Pabrik Peremukan
Pabrik peremukan ini harus dibuat cukup luas agar dapat menampung material hasil penambangan sebelum proses peremukan.
a.       Pemilihan Lokasi Peremukan dan Stock Pile
Pemilihan lokasi biasanya bedasarkan topografi daerahnya yang agak landai . Lokasi pabrik dipilih daerah yang relatif datar dan tanpa vegetasi sehingga hanya perlu proses atau pekerjaan perataan seperlunya saja. dan dekat dengan Infrastruktur yang ada seperti jalan, dan penerangan.
b.       Pemasangan Peralatan pada Pabrik Peremuk
Untuk penempatan mesin peremuk dibutuhkan pondasi yang cukup kuat agar dapat bertahan cukup lama sesuai dengan proyek yang diselenggarakan dan masalah konstruksi pondasi diborongkan kepada pihak kontraktor dengan pihak pemasok mesin peremuk sebagai konsultan.
c.       Letak Kantor
Sarana perkantoran digunakan sebagai pusat pengaturan dan pelaksanaan kegiatan kerja penambangan dan direncanakan berada pada daerah yang mudah dicapai dan dekat dengan jalan masuk. Bangunan ini dibuat permanen karena dipakai dalam jangka waktu yang sangat lama sesuai dengan umur proyek.
d.       Pusat Perawatan Alat
Dalam menunjang kelancaran operasi dibutuhkan peralatan – peralatan yang selalu dalam kondisi yang baik dan siap pakai. Untuk itu sangat dibutuhkan suatu sarana sebagai tempat perawatan peralatan (spare part), agar perawatan terhadap peralatan atau mesin – mesin yang digunakan dapat dilakukan secara rutin baik itu dalam jenis perawatan yang ringan maupun pergantiaan suku cadangnya.
e.       Penerangan
Sarana penerangan dimaksudkan untuk memberikan penerangan disekitar bangunan, jalan, dan terutama sekali didalam kegiatan penunjang kerja. Sumber listrik untuk penerangan ini tidak menjadi satu dengan listrik untuk pabrik, sehingga khusus untuk sarana penerangan ini diperlukan sebuah generator.
f.        SumberAir
Air merupakan sumber sarana yang sangat vital bagi sebuah proyek yang melibatkan banyak tenaga kerja. Disamping air digunakan sebagai kebutuhan sehari – hari, air juga dipakai dalam kegiatan penambangan yang didapat dari air tanah dengan melakukan pemboran.
g.       Prasarana Penunjang Lainnya
Yang dimaksud dengan prasarana lain disini adalah prasarana yang dipakai untuk kepentingan umum dimana selain digunakan oleh perusahaan juga dapat dipakai oleh masyarakat setempat sehingga mempunyai dampak yang positip terhadap kehidupan masyarakat sekitar. Prasarana lainnya meliputi saran olahraga, saran tempat peribadatan, poliklinik, power house, dan pos keamanan.

Sabtu, 23 Juni 2012

TAMBANG BAWAH TANAH - SHRINKAGE STOPING

SHRINKAGE STOPING


1.       Penjelasan Umum
Shrikage stoping adalah sistem penggaliannya dilakukan secara over hand. Shrinkage stoping diterapkan untuk badan bijih yang besar, kemiringan 50˚-90˚ (sleeply). Metode ini terletak antara kelas open stope dan filled stope. Bijih dihancurkan secara metode overhand dan dibiarkan terkumpul dalam stope. Mengingat bijih akan mengembang dila dihancurkan makia sekitar 35% dari volume batuan yang dihancurkan setiap peledakan harus diambil untuk memberikan ruangan yang cukup dagi pekerja untuk bekerja diantara bagian atas bijih lepas dengan atap.

Apabila bijihnya lemah, maka bagian atap diatas pekerja dapat disangga dengan baut batuan selama penambangan. Dinding stope secara otomatis akan disangga oleh bijih lepas sampai kegiatan penambangan bijih selesai. Selanjutnya bijih diambil secara keseluruhan, membentuk stope yang kosong. Dalam kasus ini membetuk open stope atau metode shrinkage stoping general. Apabila dikhawatirkan akan terjadi keruntuhan, dan hal ini tidak diinginkan, maka stope dapat diisi oleh waste yang berasal dari stope atau kegiatan diatasnya, dalam kasus ini membentuk filled stope atau metode shrinkage and fill.

Development yang dilakukan mirip dengan sublevel stoping, kecuali tidak mempunyai sublevel. Penambangan bijih dilakukan pada sayatan horizontal dimulai dari bagian bawah mengarah ketas melalui suatu manway. Manway dibuat dekat pillar vertical yang memisahkan stope yang berdekatan. Pillar vertical berukuran lebar diatas 40 feet.
                                         
2.       Stuktur Shrinkage Stoping
Pada shrinkage stoping, ore di angkut di horizontal slice, dimulai dari bawah stope dan terus maju ke atas. Bagian dari ore yang hancur ditinggalkan di stope yang telah ditambang, yang berfungsi sebagai platform kerja untuk menambang ore bagian atas dan untuk mensupport dinding-dinding stope. Melalui blasting, batuan menambah volume yang didudukinya sekitar 50%, oleh karena itu 40% dari ore yang telah di blasting harus diambil secara kontinyu selama penambangan untuk menjaga supaya keseimbangan headroom antara atas dan bawah ore yang telah diblasting. Ketika stope telah maju ke batas atas dari stope yang direncanakan, hal ini dihentikan, dan sisanya yang 60% dari ore dapat di ambil.

Ore body yang lebih kecil dapat ditambang dengan satu stope, area yang lebih besar dari ore body dibagi atas beberapa stope yang terpisah oleh pillar untuk menstabilkan hanging wall. Pillar biasanya dapat diambil setelah penambangan yang reguler selesai. Sub level stoping termasuk kedalam penyanggaan yang dilakukan secara overhand. Dengan menggunakan pillar buatan dari waste rock dan stull timber yang menyanggan dan melintang pada Sub level stoping dipasang pada geometri yang sistematis.berfungsi sebagai berpijak pekerja dan sebagai peluncur bijih, membentuk corong dan manway lining, dan sebagai penyangga lekat. Shrinkage stoping dapat dipakai pada ore body dengan :
Ø    Dip yang tegak atau >700.
Ø    Ore nya kuat.
Ø    Hanging wall dan foot wall stabil secara komparatif.
Ø    Ore body homogeny.
Ø   Ore tidak dipengaruhi storage di stope (seperti sulfida ore yang cenderung terbakar dan  terpisah ketika terekspos ke udara.

Syarat atau ciri-ciri Metode Shrinkage Stoping:
Cocok untuk batuan kuat.
-    Endapan mempunyai kemiringan lebih dari 700.
- Tebal endapan tidak lebih dari 3 m.
-    Endapan bijih memiliki nilai yang tinggi baik kadar maupun harganya.
-        Endapan bijih harus homogen atau uniform.
-    Penambangan tidak selektif.
-    Bukan merupakan endapan Sulfida (Fe), karena endapan Sulfida harus dengan metode selective mining, hal ini guna menghindari pengaruhnya pada asam tambang.

Development untuk shrinkage stoping terdiri atas :
·         Drift pengangkutan sepanjang bagian bawah stope.
·         Crosscut ke ore di bagian bawah stope.
·         Finger raise dan cones dari crosscut ke undercut.
·         Undercut atau lapisan bawah stope 5-10 m di atas drift pengangkutan.
·         Raise dari level pengangkutan melalui undercut ke level utama untuk menyediakan akses dan ventilasi ke stope.

Keuntungan metode Shrinkage stoping:
-   Investasi yang kecil terhadap alat-alat/mesin-masin karena membutuhkan sedikit alat-alat.
-   Ore dapat langsung didumping secara langsung ke alat angkut melalui chute.
-      Mengeliminasi hand-loading.
-   Dapat langsung berproduksi.
-   Mining Recovery tinggi.

Kerugian metode Shrinkage stoping:
- Kondisi kerja sulit dan berbahaya.

Contoh :
-    Mouska Mine.
-        Canada Diamond Mine. 
-    Schwartzwalder Mine

Jumat, 22 Juni 2012

METODE TBT - BLOCK CAVING

TAMBANG BAWAH TANAH (BLOCK CAVING)


Penerapan metode caving (ambrukan) memanfaatkan:
1.       Berat bijih, atau
2.       Tekanan batuan diatasnya, atau
3.       Keduanya secara bersamaan
Sehingga penambangan menjadi lebih murah dan tersedia fasilitas penyanggaan secara otomatis. Bagian atas undercut dari endapan akan runtuh mengisi ruang pada undercut tersebut, dan kegiatan peledakkan akan dikurangi atau dihemat secara besar-besaran.

Pada kegiatan penambangan bijih, daerah kerja akan diisi oleh broken ore diatasnya, sehingga tidak perlu melakukan penyanggaan terhadap bijihnya. Tingkat kesuksesan metode caving tergantung:
1.    Bila semakin besar kecenderungan bijih untuk pecah/hancur dengan sendirinya (karena tekanan bijih itu sendiri dan tekanan tanah penutup).
2.     Bila semakin mudah batuan diatas bijih untuk runtuh dan mengisi daerah kosong.
3.     Bila diijinkan terjadi amblesan di atas permukaan tanah.

I.        SUB-LEVEL CAVING
Dikembangkan dari metode top slicing, dan sekarang sangat populer karena dimungkinkan melakukan mekanisasi. Metode sublevel caving yang baik diterapkan di Craigmont Mines Ltd di British Columbia:
ü  Diterapkan sejak tahun 1967.
ü  Untuk menggantikan open pit karena batuan dinsing terlalu lemah (inkompeten).
ü  Lebih ekonomis dan efisien dibandingkan cut and fill untuk batuan lemah yang sama.

Urutan kegiatan sublevel caving di Craigmont:
1.  Haulage drift berjarak 31 feet secara vertikal, dan dihubungkan dengan ramp dengan kemiringan 20%.
2.   Drift produksi (terhubung dengan dari haulage drift) dibuat menembus badan bijih dengan interval 25 feet.
3.   Dibuat slot raise sepanjang 50 feet menembus bijih disetiap ujung drift produksi.
4.   Membuat pemboran kipas (fan drilling) sebanyak 10-12 lubang membentuk sudut 800.
5.   Meledakkan dua buah pemboran kipas dimulai dari slot raise.
6.  Melakukan penarikan broken ore dengan LHD dan menumpahkan ke ore pass, sampai sebagian waste ikut terambil.
7.  Langkah nomor 5 diulangi sampai seluruh bijih terambil dan rongga akan diisi oleh waste runtuhan open pit.

Aplikasi penerapan metode ini, antaralain:
1.       Badan bijih besar dan cukup kompeten, yang tidak cocok untuk sublevel stoping ataupun block caving (karena tidak cukup baik menghasilkan caving).
2.       Badan bijih sempit kemiringan 500-900 (steeply) dan mempunyai dimensi vertical.
3.       Sebagai pengganti metode cut and fill.
4.       Cocok untuk badan bijih segala kedalaman, dan tidak memerlukan dinding yang kompeten.
5.       Terjadi runtuhan yang menerus pada hanging wall selama proses pengambilan bijih.
6.       Kondisi yang dijinkan terjadinya dilusi dan losses.
7.       Untuk kondisi dimana mineral berharga dan waste rock mudah dipisahkan (misal: pemisahan magnetik).
8.       Metode ini relatif baru dan belum secara menyeluruh dimengerti, tetapi terus dikembangkan.

Keuntungan dalam penerapan metode ini, antaralain:
1.       Mudah dilakukan mekanisasi.
2.       Tidak ada pillar yang ditinggalkan.
3.       Produksinya besar.
4.       Dapat dilakukan seleksi pada bijih.
5.       Development dilakukan pada bijih itu sendiri.
6.       Merupakan metode paling ekonomis dan aman untuk batuan inkompeten.
7.       Development opening tidak selalu harus secara dipertahankan terus menerus.
8.       Caving pada dinding akan membantu proses pengecilan broken ore.

Sedangkan, Kerugian dalam penerapan metode ini, antaralain:
1.       Dilusi tinggi (sifat inheren), semakin tinggi dilusi maka semakin tinggi mining recovery.
2.       Penambangan tidak terkonsentrasi: pengawasa sulit

II.      BLOCK CAVING
Diperlukan pembuatan undercuting di bawah suatu blok bijih yang besar, sehingga memungkinkan blok bijih tersebut ambruk. Urutan kegiatan penambangan sublevel caving:
1.       Pembuatan crosscuts sistimatis di bawah badan bijih.
2.       Dari crosscuts dibuat finger raise menembus bijih.
3.       Bijih digali dibagian bawahnya membentuk undercut, sehingga runtuh dan hancur oleh berat bijih dan berat batuan diatasnya (overlying capping) membentuk broken ore yang cukup kecil untuk ditarik melalui draw point.
4.       Runtuhan biasanya menerus sampai ke permukaan bumi, apabila overburden telah ikut terpengaruh oleh penarikan broken ore.
5.       Penarikan bijih terus berlangsung sampai terlihat material overburden pada draw point.

Saat ini telah berhasil menangani blok bijih dengan tinggi 50 meter sampai 350 meter. Kriteria sukses operasi block caving, antaralain:
1.       Apabila blok bijih yang besar dapat cepat hancur.
2.       Perolehan broken ore memadai.
3.       Dilusi kadar minimum.
4.       Kerusakan relatif kecil pada bukaan-bukaan yang dipersiapkan selama development.

Aplikasi dalam penerapan metode ini, antaralain:
1.       Urat lebar dan lapisan tebal, cebakan homogen, overburden bersifat segera runtuh.
2.       Batuan penutup (caving) mempunyai sifat runtuh.
3.       Bijih cukup kuat (tidak runtuh) saat development, dan segera runtuh bila undercut diledakkan.
4.       Daerah bijih relatif kering: menghindari terbentuk lumpur yang akan mempersulit kontrol penarikan broken ore.
5.       Kadar homogen: block caving tidak selektif.
6.       Ideal untuk cebakan porphyry copper: mempunyai bijih dan caving lemah (tembagapura, papua)

Keuntungan penerapan metode ini, antaralain:
1.       Biaya penambangan rendah.
2.       Output tinggi: 10.000 – 100.000 ton/hari.
3.       Mekanisasi: tenaga buruh sedikit.
4.       Timber sedikit: mengurangi bahaya kebakaran.
5.       Produksi terkonsentrasi: pengawasan mudah.
6.       Kecelakaan tambang rendah

Sedangkan, Kerugian dalam penerapan metode ini, antaralain:
1.       Modal besar, dan developmen lama.
2.       Dilusi broken ore dengan waste rock.
3.       Bijih kadar rendah pada capping dan batas badan bijih akan hilang (tidak terambil).
4.       Tidak fleksibel, tidak dapat diubah ke metode lain.




Rabu, 20 Juni 2012

Metode Tambang Bawah Tanah (Open Stope)

METODE TAMBANG BAWAH TANAH (OPEN STOPE)

Pada penjelasan sebelumnya telah mendefenisikan tentang pelaksanaan tambang bawah tanah serta beberapa penerapan metode dalam tambang tersebut. Pada bagian ini akan dijelaskan tentang beberapa bagian penerapan tambang tersebut.

1.  Open Stope
Aplikasi open stope secara umum, antaralain:
a. Daerah bijih dan country rock kuat, kecuali cebakan tipis-datar atau sedikit miring yang dapat
    ditambang dengan retreating system.
b. Bijih kadar rendah atau nilai ekonomis rendah, mengingat pillar berupa bijih dan losses tinggi.
    Pada bijih kadar tinggi dapat dilakukan pillar robbing.
c. Penambangan sangat selektif. Pada steep dip 50' – 90' dimungkinkan meninggalkan kadar rendah
    sbg pillar. Pada flat dip 0' – 20' mempunyai selektifitas tinggi.
d. Pada flat dip dimungkinkan sortasi, untuk steep dip dilakukan sortasi secara terbatas.
e. Aplikasi umum: tabular dinding teratur, batas dinding jelas. Kadang diterapkan untuk cebakan
    yang besar, menggumpal (massive), dinding irregular.

Adapun beberapa penerapan metode open stope dalam tambang bawah tanah terdiri dari :
1.  Open Stope dengan Underhand Stoping.
2.  Open Stope dengan Overhand Stoping.
3.  Open Stope dengan Breast Stoping/ Stope & Pillar.

1.1. Open Stope dengan Underhand Stoping.
Penerapan metode ini berupa stope level bagian atas dan bawah dihubungkan dengan raise dan pelaksanaan penambangan dimulai dari level atas menuju level bawah (underhand stoping), sehingga terbentuk jenjang untuk berdiri pekerja · Broken ore dijatuhkan secara gravitasi menuju haulage drive sehingga meminumkan transportasi mekanikal.
Adapun penerapan/ aplikasi dari metode ini, antaralain:
1.  Bijih ketebalan 3-4 meter.
2.  Kemiringan 50', pemindahan bijih secara gravitasi.
3.  Bukan sebagai metode utama, hanya sebagai metode tambahan untuk ekstraksi bijih yang terpisah
     dari bijih utama atau bagian badan bijih utama yang memberikan kondisi yang cocok.
4.  H/W dan F/W kompeten untuk mengurangi ore pillar.
5.  O/Z boleh inkompeten karena bijih menjadi tempat berpijak pekerja. 
Keuntungan penerapan metode ini, antaralain:
1.  Unjuk kerja pemboran baik.
2.  Kebutuhan penyanggaan sedikit.
3.  Memanfaatkan gravitasi untuk transportasi broken ore.
4.  Pemboran dilakukan kearah bawah.
5.  Kehilangan bijih halus kadar tinggi lebih sedikit.

Sedangkan kerugian dari penerapan metode ini, antaralain :
1.  Sortasi sukar dilakukan dalam stope.
2.  Kondisi kerja berbahaya khususnya dibawah backs dan walls, interval level harus kecil.
3.  Fasilitas menempatkan waste dlm stope sangat terbatas.
4.  Broken ore dikeluarkan pada “satu titik”, produksi kecil.

1.2.  Open Stope dengan Overhand Stoping
Penerapan metode ini merupakan penempatan level bagian atas dan bawah dihubungkan dengan raise dengan unjuk kerja sebagai berikut :
-  Penambangan dimulai dari level bawah menuju level atas (overhand stoping).
-  Untuk bijih yang curam diperlukan platforms (3-4 meter vertikal, 1-2 meter horizontal) untuk
   perpijak pekerja.
-  Broken ore dijatuhkan secara gravitasi menuju haulage drive sehingga meminumkan transportasi
   mekanikal.
-  Haulage level dilindungi oleh ore pillar atau timber mat.

Aplikasi dari penerapan metode ini, antaralain:
1.  Ketebalan bijih 3-4 meter.
2.  Kemiringan 50', pemindahan bijih secara gravitasi.
3.  Kemiringan diatas 50', diperlukan platform pekerja.
4.  Bukan sebagai metode utama, hanya sebagai metode tambahan untuk ekstraksi bijih yang terpisah
     dari bijih utama atau bagian badan bijih utama yang memberikan kondisi yang cocok
5.  H/W dan F/W kompeten untuk mengurangi ore pillar.
6.  Badan bijih kompeten.

Keuntungan penerapan metode ini, antaralain :
1.  Posisi backs tidak memberikan bahaya, interval level dapat lebih kecil.
2.  Sorting dilakukan secara sistimstis.
3.  Waste hasil sorting dapat ditumpuk pada mine out area.
4.  Kondisi kerja lebih aman dan aplikasi lebih elastis.
5.  Pada kemiringan yang kecil broken ore jatuh pada haulage drive secara gravitasi.

Sedangkan kerugian penerapan metode ini, antaralain:
1.  Unjuk kerja pemboran menurun.
2.  Kemiringan bijih diatas 45' diperlukan platform pekerja.
3.  Lebih banyak memerlukan material penyangga.
4.  Lebih besar kehilangan bijih ukuran halus kadar tinggi.

1.3.  Open Stope dengan Breast Stoping/ Stope & Pillar
Pembongkaran dilakukan secara maju (advancing) terhadap bijih horisontal kurang 3 meter, dimana kondisi tersebut tidak memungkinkan penambangan underhand maupun overhand. adapun unjuk kerja penerapan metode ini, antaralain:
-  Endapan yang lebih tebal dari 3 meter, maka dilakukan berjenjang, dengan tebal maksimum 13
   meter.
-  Penyanggaan atap dilakukan secara pemanen atau semi permanen (pillar) dari bijih itu sendiri yang
   kadang-kadang diperkuat dengan semen disekelilingnya (spray cement, pouring cement).
Aplikasi penerapan metode ini, antaralain :
1.  Cebakan tidak bernilai tinggi, sejumlah bijih ditinggal sebagai pillar.
2.  Ketebalan tidak lebih dari 7 meter.
3.  Ketebalan diatas 7 meter akan mengakibatkan mining recovery semakin kecil dan bahaya
     runtuhan atap.
4.  Cebakan mendatar sampai kemiringan 20'-50' (moderately steep).
     a. Horizontal mining: stope and pillar untuk bijih mendatar atau hamper mendatar.
     b. Iinclined mining: stope and pillar untuk kemiringan 20'-30', penambangan searah dip, tidak
         memungkinkan memakai mobile equipment.
     c. Step mining: stope and pillar untuk kemiringan 30'-50', dibentuk daerah kerja sedemikian rupa
         sehingga memungkinkan penggunaan mobile equipment.
5.  Batuan atap dan lantai kompeten, untuk meminimalkan pemakaian pillar.
6.  Bijih kompeten untuk mengurangi lebar pillar.
7.  Kedalaman tidak terlalu besar untuk menggurangi beban yang harus disangga pillar.
Keuntungan penerapan metode ini, antaralain:
1.  Biaya penambangan rendah.
2.  Memungkinkan sortasi dalam stope, dan waste ditinggal pada ruang kosong yang ada.
3.  Memungkinkan mekanisasi dari drilling.

Sedangkan kerugian penerapan metode ini, antaralain :
1.   Losses sebagai pillar mencapai 40%, dengan pillar robbing yang efektip menjadi 20%.
2.  Bahaya runtuhan dari hangging wall, khususnya bila mempunyai joint dan cracks yang sejajar.
3.  Daerah yang harus diatur ventilasinya sangat luas.

Metode dapat dimasukkan dalam stope and pillar (bukan room and pillar) apabila memenuhi dua dari tiga hal, antaralain:
1.   Pillar tidak teratur dan terletak acak.
      a. Kadar rendah atau waste sebagai pillar
      b. Bukan untuk memperoleh bentuk atau perencanaan tambang yang sistimatis, ttp. sekedar
          menyangga atap.
      c. Penyusun pillar adalah batuan, maka relatif kuat dan berdimensi kecil.
2.  Ketebalan cebakan lebih besar 6 meter.
     a. Tebal tetapi aman secara teknik, maka dilakukan tidak berjenjang.
     b. Tebal dan tidak aman secara teknik, maka dilakukan berjenjang.
3.  Komoditas yang ditambang adalah mineral, bukan batubara
     a. Batubara dapat ditambang secara room and pillar.
     b. Tidak ada cebakan batubara ditambang secara stope and pillar.
     c. Rule of tumb: room and pillar untuk coal, dan stope and pillar untuk non-coal.

Selasa, 19 Juni 2012

Teori Pertambangan-I

PERTAMBANGAN

Pertambangan merupakan suatu aktifitas penggalian, pembongkaran serta pengangkutan suatu endapan mineral yang terkandung dalam suatu area berdasarkan beberapa tahapan kegiatan penambangan secara efektif dan ekonomis dengan menggunakan peralatan mekanis serta beberapa peralatan sesuai dengan perkembangan teknologi saat ini.

Hakikatnya pembangunan sektor pertambangan dan energi mengupayakan suatu proses pengembangan sumberdaya mineral dan energi yang potensial untuk dimanfaatkan secara hemat dan optimal bagi sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Sumberdaya mineral merupakan suatu sumberdaya yang bersifat tidak terbaharui (wasting asset or un-renewable). Oleh karena itu penerapannya diharapkan mampu menjaga keseimbangan serta keselamatan kinerja dan kelestarian lingkungan hidup maupun masyarakat sekitar. Beberapa faktor yang mempengaruhi usaha pertambangan adalah sebagai berikut :
1.   Perubahan dalam sistem perpajakan.
2.   Kebijakan dalam lingkungan hidup.
3.   Keadaan ekonomi yang buruk.
4.   Harga endapan/ logam yang buruk.
5.   Keadaan politik yang tidak stabil.

Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dalam mengelola sumberdaya mineral diperlukan penerapan suatu sistem penambangan yang tepat baik dari segi teknis maupun ekonomis agar perolehannya optimal. Secara umum metode penambangan dibagi menjadi 3 bagian, antaralain :
1.   Metode Tambang Terbuka.
2.   Metode Tambang Bawah Tanah.
3.   Metode Tambang Bawah Air.

1.  TAMBANG TERBUKA

Metode tambang terbuka merupakan suatu metode/ penerapan kegiatan penambangan yang seluruh kegiatan dan aktiftasnya dilakukan diatas atau relatif dekat dengan permukaan bumi serta seluruh ruang lingkup kegiatannya berhubungan langsung dengan udara luar. Beberapa jenis penerapan metode penambangan ini antaralain:
a.  Open Pit.
b.  Open Cut.
c.  Strip Mine.
d.  Quarry.

Beberapa keuntungan penerapan metode tambang terbuka ini antaralain :
1.  Ongkos penambangan per-ton/ per-BCM endapan mineral lebih murah karena tidak membutuhkan
     penyanggaan, ventilasi dan penerangan.
2.  Kondisi kerjanya baik karena berhubungan langsung dengan udara luar & sinar matahari.
3.  Penggunaan alat-alat mekanis dengan ukuran yang besar lebih leluasa sehingga dapat mengejar-
     produksi yang besar.
4.  Pemakaian bahan peledak lebih baik dan efisien dan hasilnya lebih baik.
5.  Perolehan tambang lebih besar karena batas endapan dapat dilihat dengan jelas.
6.  Relatif lebih aman terhadap longsoran dan runtuhan.

Sedangkan, kerugian dari penerapan sistem penambangan ini, antaralain:
1.  Efisiensi kerja dapat menurun oleh faktor cuaca atau suhu yang tinggi.
2.  Kedalaman penggalian terbatas karena semakin dalam penggalian maka akan semakin -
     banyak volume tanah penutup yang tergali.
3.  Timbul masalah dalam penempatan pembuangan tanah penutup yang cukup banyak.
4.  Tingkat pencemaran lingkungan hidup semakin tinggi.

Beberapa contoh tambang terbuka :
































2.  TAMBANG BAWAH TANAH

Tambang bawah tanah merupakan suatu aktifitas penambangan yang keseluruhan aktifitasnya tidak berhubungan dengan alam terbuka atau udara bebas. Beberapa mtode penerapan aktifitas tambang bawah tanah antaralain :
a.  Open stope methodes.
b.  Supported stope methods.
c.  Caving methods.
d.  Coal mining methods.

 Adapun beberapa pertimbangan teknis pemilihan metode tambang bawah tanah, antaralain :
1.  Panjang, tebal dan lebar cebakan.
2.  Kemiringan cebakan.
3.  Kedalaman Endapan mineral.
4.  Faktor waktu dan kadar cebakan.
5.  Batas dengan bijih lain.

Penjelasan tentang keuntungan dan kerugian penerapan metode penambangan ini akan dijelaskan sesuai dengan sistem/ metode penambangan yang diterapkan secara bawah tanah.